Laman

Showing posts with label Aktuan Nasional. Show all posts
Showing posts with label Aktuan Nasional. Show all posts

Wednesday, August 17, 2011

"INDONESIA " Masihkah Kita Peduli ???

Sebelum meraih kemerdekaan, rasa nasionalisme yang ada di dada setiap rakyat Indonesia teramat sangat tinggi. Dan hal inilah yang sebenarnya mengantarkan kita kepada Kemerdekaan. Tapi apa yg terjadi setelah kemerdekaan, tepatnya pasca Reformasi medio Mei 1998 justru Nasionalisme di negeri ini semakin pudar.

Berbagai masalah yang menerpa bangsa ini mulai dari korupsi, mafia peradilan, money politics, terorisme, pluralisme, pemerataan kesejahteraan etc, merupakan beberapa dampak dari degradasi Nasionalisme di Indonesia. Kita tidak dapat menyangkal bahwa sebagian besar Rakyat Indonesia lebih memilih untuk tidak peduli dan melangsungkan kesehari2an mereka karena sudah terlalu kebal dengan penderitaan. Padahal Semangat Nasionalisme itu sangat penting sekali bagi bangsa ini untuk bisa menjadi bangsa yang maju, aman, damai, adil dan sejahtera.

Tapi saya sangat bersyukur sekali, di tengah2 Krisis Nasionalisme di Negeri kita ini ternyata masih ada secercah harapan. Saya menemukan peristiwa langka dimana sebuah komunitas berlabel EOC yg pengurus beserta members nya masih mempertahankan semangat Nasionalisme, Pancasila & Kepedulian terhadap Indonesia. Hal ini tercermin dari event yg diadakan salah satu pengurus EOC dan para members nya yang memakai avatar para Pahlawan Indonesia. Walaupun para pengurus beserta members tsb tidak berasal dari kota, suku, agama dan budaya yg sama namun mereka dapat membuktikan bahwa perbedaan dapat menjadi sebuah kekuatan bukan perselisihan. Sungguh suatu hal yang langka mengingat para Generasi Muda Indonesia saat ini terdoktrin dengan Tokoh dan Budaya Asing.
Berikut ini penampakan dari forum tersebut
KUNJUNGI SITUS  KLIK DISINI
Dan yg istimewa di sediakan sebuh room khusus utk menyuarakan ide kritis kita di Suara Anak Negeri
yg di moderasi oleh saudara liem


[Image: indonesiabrotherhood.jpg] 

Satu diantara beberapa point penting yang saya dapat dari peristiwa di EOC ini adalah, bahwa dengan Kemajemukan/Pluralisme kita dapat membangun Kekuatan untuk mengalahkan Keputusasaan demi Indonesia Yang Lebih Baik lagi. Semoga apa yang terjadi di EOC dapat menjadi pembelajaran bagi kita semua, juga mudah2an masih banyak lg masyarakat Indonesia yg memiliki semangat Nasionalisme & Kepedulian thd bangsa ini. Amin

Lihat Selengkapnya......

Monday, February 28, 2011

SALUT Anak Tukang Parkir KULIAH di Korea Selatan




DAYA Laras Dika (19) bisa kuliah di Korea Selatan setelah mendapat bea siswa.*

YOGYAKARTA, (PRLM).- Daya Laras Dika (19) merupakan remaja teladan dari keluarga tidak beruntung. Lelaki berkacamata minus sebagai sosok pejuang yang berontak pada kemiskinan yang mendera orang tuanya. Kerja kerasnya terbayar dengan diperolehnya beasiswa penuh di International Finance Woosong University Korea Selatan.

Pria kelahiran Yogyakarta, 19 Februari 1992 ini putra pasangan Agus Yus Yudiarso dan Katijah, pasangan tukang parkir di Kota Yogyakarta. Selama enam bulan, dia tercatat sebagai mahasiswa program internasional Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia (UII). Atas dorongan fakultas, dia mengikuti tes beasiswa dan berhasil lolos.

Keteladanan Laras pada sikap tegar dan tak pantang menyerah. Sejak SD, orang tuanya tak mampu membayar sekolah. Dia malang melintang untuk mendapatkan beasiswa, dengan cara masuk dari satu kantor ke kantor lain di lingkungan Pemkot Yogyakarta untuk mendapatkan beasiswa. Cara yang sama ditempuhnya saat SMP 6 dan SMA 1 Yogyakarta. "Saya mendapatkan biaya studi dengan mengajukan beasiswa, orangtua saya ekonominya sederhana. Mereka buruh parkir," ujar dia.

Ketika SMA, dia sedikit lega setelah mendapat bantuan pendidikan pemegang Kartu Menuju Sejahtera (KMS) persiapan kuliah mendapat bantuan jaminan pendidikan daerah Rp 3 juta dan beasiswa prestasi untuk lulusan SMA sebesar Rp 900.000 dari Pemkot Yogyakarta.

Inginya kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI) atau Universitas Gadjah Mada (UGM), takdir mengantarkannya ke Fakultas Ekonomi UII angkatan 2010. Karena tercatat sebagai mahasiswa ekonomi reguler, dia menegosiasi supaya masuk kelas internasional. Beasiswa dari Lembaga Zakat, Infaq dan Sadakah (Lazis) UII sebesar Rp 32 juta hanya cukup mengikuti program ekonomi reguler. Dia tidak menyerah, caranya mencari saweran di kampus mendaftar program tuition fee dengan jadi instruktur atau asisten, meskipun ini dilarang bagi mahasiswa yang sudah mendapat beasiswa.

Masalah baru muncul, ketika kedua orangtua Laras tidak mengizinkan anak tunggalnya ke luar negeri, karena dia tidak pernah pergi jauh. "Saya melakukan pendekatan ke orangtua sejak Laras mulai aplikasi beasiswa ke Woosong. Saya meyakini dia bisa diterima, maka kedua orang tua dia kita yakinkan anaknya bisa lebih terjamin masa depannya dengan kuliah di Korsel," kata Ketua Internasional Program Ekonomi UII, Anas Hidayat.
Sabtu (26/2), Laras yang tercatat sebagai warga Bangunrejo RT.01/1639 Kricak, Tegalrejo, Yogyakarta terbang menuju Korsel.(A-84/A-147)***

SUMBER

Lihat Selengkapnya......
English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Mau Duit Gratis Klik Disini

LinkWithin